Film: The Platform (2019)

March 30, 2020

Di sebuah penjara, tahanan di lantai atas makan enak, sementara yang di bawah cuma dapat sedikit sisa. Seorang pria ingin mengubah keadaan agar semua dapat cukup makanan.


Sumber
Sebuah penjara beratus tingkat, dengan lubang berbentuk persegi panjang di tengah-tengahnya, yang satu kali dalam sehari akan menjadi tempat melintasnya nampan berisikan makanan melimpah-ruah. Permasalahannya, tidak semua orang di dalam penjara tersebut berkesempatan menikmati sajian dari nampan tersebut, karena makanan selalu habis saat masih di tingkat atau level tinggi. Narapidana di level bawah hanya mendapatkan sisa-sisa yang tidak berbentuk lagi, atau malah tidak mendapatkan apapun. Setiap bulannya, para narapidana akan terbangun di level yang berbeda. Mereka yang terbangun di level golongan tinggi, akan merasa sangat gembira karena bisa menikmati makanan. Namun bagaimana dengan narapidana yang terbangun di level rendah? Bagaimana cara mereka bertahan hidup selama satu bulan ke depan?

Melalui premis sesederhana itu, The Platform berhasil membuat saya (atau malah kita) termenung membayangkan betapa persisnya kehidupan kita di dunia dengan penjara bertingkat tersebut. Saya sampai kaget waktu tahu bahwa The Platform ini adalah film debut dari sutradara Gaztelu-Urrutia. Mahasiswa atau pecinta semiotika pasti akan tergila-gila dengan film ini, saking banyaknya yang dapat digali dan diinterpretasikan. Berikut adalah beberapa poin yang menarik perhatian saya dari film ini:

Terdakwa atau Sukarelawan?


Goreng (Iván Massagué) dan Trimagasi (Zorion Eguileor) merupakan narapidana yang berbagi sel. Jika Trimagasi (Sama-sama... Oke, apa ini termasuk lelucon yang menyinggung SARA?) berada di sel tersebut sebagai bentuk hukuman karena menghilangkan nyawa orang, Goreng malah memilih untuk masuk ke dalam sel tersebut secara sukarela, bahkan penuh rasa deg-degan saat sedang tes kelayakan. Ini menggambarkan bahwa di dalam ratusan level sel tersebut tidak hanya ada narapidana, namun juga orang-orang yang memutuskan untuk menguji pengendalian dirinya. Satu kesamaan dari tiap individu ini adalah mereka diimingi sebuah diploma jika berhasil melewati enam bulan lamanya di dalam sel. Berdasarkan narasi di film, nampak bahwa orang yang berhasil mendapatkan diploma ini sangat berarti dan disegani di dunia luar. Namun jika disegani dari hasil ketamakan, menginjak hak orang lain, bahkan membunuh, apakah masih layak untuk disegani? Hmm... Mulai nampak seperti dunia realita saat ini?

Mekanisme Pengendalian Diri di Setiap Level


Di tengah film, kita bertemu dengan sosok dari The Administration yang ikut mencoba mekanisme penjara yang ia ciptakan. Susah payah ia mencoba mengajarkan narapidana yang berada di level di bawahnya untuk makan secukupnya, sesuai porsi, dan meneruskan ajaran tersebut ke level selanjutnya dengan tujuan agar semua level mendapatkan makanan dan tidak ada orang yang tersiksa karena kelaparan. Bertahun lamanya ia menggodok konsep mekanisme pengendalian diri melalui sel seperti The Platform ini, hanya untuk dihadapkan dengan kenyataan bahwa konsepnya, well... gagal. Jika dikaitkan dengan dunia realita, ibarat pepatah yang mengatakan, "Hidup bagai roda pedati, kadang di atas, kadang di bawah," The Platform took it literally. Sebulan ini mungkin di level delapan, bulan depan di level 102, bulan ketiga di level 48, semuanya bisa dan pasti berubah. The Platform menunjukkan sisi keji manusia yang susah payah bertahan hidup ketika sedang berada di bawah dan sisi keji manusia yang rakus dan angkuh ketika sedang berada di atas.

Level Nol


Menjelang akhir film, kamera menyorot bagaimana seorang laki-laki yang berpakaian bagai pelayan restoran membawa sepiring makanan dan meletakkannya di atas nampan raksasa. Sesaat kemudian makanan tersebut turun untuk mulai dinikmati oleh narapidana di level satu. Level nol merupakan level tertinggi dan alih-alih narapidana, level nol digunakan sebagai ruang penyajian makanan para narapidana. Asumsi saya yang mengolah dan menyajikan makanan adalah para koki yang dipekerjakan oleh The Administration. Tidak ada yang cukup aneh menurut saya di sini, kecuali pertanyaan saya, yang juga dipertanyakan di dalam film, apakah makanan memang dibuat cukup untuk seluruh narapidana? Jika para narapidana memakan sesuai porsi atau secukupnya saja, apakah makanan memang cukup?
"There are three kinds of people; the ones above, the ones below, and the ones who fall." 
Film ini keji, bukan secara visual, namun dari sisi nihilnya empati. Saran saya, nontonlah ketika kondisi mental Anda sedang normal, tidak sedang merasa sedih ataupun bahagia, karena film ini bisa saja memperburuk perasaan Anda.

The Platform dapat disaksikan di Netflix.

You Might Also Like

0 comments

Thank you for spending your time here. Constructive criticism, question, occasional compliment, or a casual hello are highly appreciated.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan