Film: The Willoughbys (2020)

April 27, 2020

Sumber
"If you love stories about families that stick together, and love each other through thick and thin, and it all ends happily ever after, this isn't the film for you, okay?"
Oke. Saya suka film animasi... dengan akhir yang bahagia. Jika hanya membaca kutipan di atas, saya yakin saya tidak akan menyentuh film The Willoughbys ini. Permasalahannya, kutipan tersebut diucapkan oleh seekor kucing tabby berwarna biru yang gemuk dan menggemaskan. Mana bisa saya percaya kalau ini adalah film sedih...
"If you need love, I beg of you to find it elsewhere."
Tim, Jane, dan kembar Barnaby (alias Barnaby A dan Barnaby B alias Barnabys), lahir dari sepasang orang tua yang sangat saling mencintai. Nampaknya kelewat mencintai satu sama lain hingga mereka tidak lagi memiliki sisa cinta untuk diberikan pada keempat anaknya. Mereka malah sangat membenci anak-anaknya. Keempat anak mereka dibiarkan kelaparan dan dihukum kurung jika berani meminta kasih sayang dari orang tuanya. Hingga akhirnya Jane mencetuskan ide untuk membuat diri mereka menjadi yatim piatu. Too dark for a child movie, eh?

Anak-anak Willoughby kemudian menyusun rencana perjalanan untuk orang tua mereka ke tempat-tempat yang rawan dan menyeramkan. Rencana perjalanan disusun dalam bentuk brosur yang apik dan dikirimkan melalui sebuah katrol ke ruang keluarga tempat orang tua mereka paling banyak menghabiskan waktunya. Singkat cerita, orang tua Willoughby pun berangkat dan meninggalkan anak-anak mereka di rumah... bersama seorang pengasuh yang tidak memiliki kualifikasi.

Lantas apakah anak-anak Willoughby akhirnya bisa bahagia setelah orang tua mereka pergi? Apakah mereka benar menjadi yatim piatu seperti yang mereka inginkan? Apakah mereka benar-benar menginginkan menjadi yatim piatu? Tonton saja di Netflix ya... Filmnya cukup seru dan hangat, meskipun kita tidak boleh berharap akan banyak lemparan humor dan ceplosan menggelitik dari karakter-karakternya seperti di film-film besutan Disney dan Pixar.

Seperti menonton karakter dari buku cerita

Film The Willoughbys memang disadur dari buku anak-anak bertajuk sama. Tetapi saya tidak menyangka bahwa visualnya benar-benar seperti gambar dari buku anak-anak. Sangat hangat, unik, dan menyenangkan untuk dilihat. Karakter Willoughby memiliki rambut merah yang tebal dengan tekstur bagaikan benang wol. Namun walaupun memiliki kesamaan yang mencolok, Kris Pearn, sutradara The Willoughbys, berhasil menonjolkan perbedaan dari setiap anak-anak Willoughby. Mulai dari si kembar Barnaby yang terkesan menyeramkan dan monoton dengan kalimat-kalimat singkatnya, Jane yang artsy, suka menyanyi dan cukup pintar dari sisi akademis, hingga Tim, si sulung yang memosisikan dirinya sebagai pengganti sang ayah, sebagai Willoughby sejati. Setiap karakter diberikan nyawa yang berbeda.

Demikian pula halnya dengan karakter Nanny dan Melanoff yang meskipun hanya karakter pendukung namun diberikan latar belakang kisah yang cukup untuk membuat penonton merasa mereka juga memiliki jiwa dan bukan hanya karakter satu dimensi saja.

Dari sisi cerita, it's not really my cup of tea, apalagi mengingat saya sangat suka saat Kris Pearn membuat Cloudy with a Chance of Meatballs 2. Tapi saya tidak bisa berhenti menonton film ini karena visualnya yang dibuat layaknya boneka dalam bentuk stop-motion. Sangat menarik dan berbeda dari animasi lain yang pernah saya tonton. Visually pleasing! Para penikmat film animasi pun pasti akan tersihir dengan visualnya.

The Willoughbys sudah dapat ditonton di Netflix.

You Might Also Like

0 comments

Thank you for spending your time here. Constructive criticism, question, occasional compliment, or a casual hello are highly appreciated.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan