Game: Bercocok Tanam Bersama Doraemon dan Nobita

May 07, 2020

Bosan self-quarantine dan WFH? Mari memulai aktivitas baru! Sekarang setiap bangun pagi saya langsung menjenguk hewan dan ternak saya untuk sekadar berbincang. Saya juga memerah susu sapi, memotong bulu domba, mengambil telur dari ayam-ayam, dan berkeliling ladang menunggangi kuda poni yang gesit sembari membersihkan ladang dari tanaman dan bebatuan liar. Setelah itu saya menyirami atau memanen tanaman di ladang. Untuk mengisi waktu luang, saya sering berkeliling kota dan memberikan hadiah berupa hasil ladang atau tumbuhan liar kepada para penduduk.

Seru kan keseharian saya sekarang? Begitulah saya mengontrol Nobita di game Doraemon: Story of Seasons!

Harvest Moon atau Story of Seasons?

Serupa tapi tak sama, kan? Sebelumnya saya juga bingung, kenapa serian Harvest Moon yang lainnya tidak seapik dan selegendaris Harvest Moon: Back to Nature. Ternyata karena ada pecah kongsi di dalam manajemennya. Produser dan desainer dari Harvest Moon adalah Yasuhiro Wada yang mengembangkannya bersama Victor Interactive Software dan didistribusikan oleh Natsume (Serious Fun — ada yang masih ingat tagline ini?). Hingga akhirnya pada tahun 2003, perusahaan Marvelous Entertainment membeli Victor Interactive Software, disusul Yasuhiro Wada yang keluar di tahun 2010, dan pemutusan kerja sama antara Marvelous Entertainment dengan Natsume di tahun 2012. Namun lisensi nama Harvest Moon sendiri dimiliki oleh Natsume, sehingga jika Marvelous Entertainment ingin membesarkan serian permainan bercocok tanam legendaris ini, ia harus menggunakan nama lain. Lahirlah Story of Seasons, yang kali ini menggaet Doraemon dan kawan-kawan sebagai tokoh utamanya.

Doraemon: Story of Seasons

Saat libur musim panas, Nobita dan teman-temannya menemukan sebuah bibit pohon dan menanamnya. Bibit tersebut kemudian tumbuh menjadi sebuah pohon yang besar dan menimbulkan badai yang menyeret Nobita dan teman-temannya masuk ke sebuah lubang hitam hingga akhirnya mereka tiba di suatu kota yang bernama Natura. Setelah perkenalan dan tutorial yang cukup panjang, singkatnya setiap orang di Natura harus bekerja. Sembari mengumpulkan alat-alat Doraemon yang tercecer saat mereka terseret badai agar mereka bisa kembali pulang ke rumah, Nobita dan teman-temannya pun harus bekerja. Nobita sang pemalas mendapat jatah bekerja menggarap sebuah ladang.

Untuk mengumpulkan gadget Doraemon, selain menggarap ladang dan mengurus ternak, ada banyak sekali side story yang harus diselesaikan. Mulai dari bersahabat dengan para penduduk, hewan, dewi, hingga menjelajahi tempat-tempat rahasia yang tidak ada di dalam peta. Secara garis besar, benar-benar hampir serupa dengan seri Harvest Moon pendahulunya.

Setelah menghabiskan waktu satu tahun (di dalam game, 50 jam di dunia nyata) bermain, saat ini saya sudah berada di tahun kedua. Sudah lebih dari cukup untuk bisa melihat berbagai keunggulan dan kekurangan dari game ini.

Plus
  • Visual yang indah. Tampilan grafis yang bagaikan lukisan cat air disuguhkan di sepanjang permainan. Apalagi kalau melihat gradasi warna pepohonan dan air di sungai atau laut, benar-benar seperti lukisan. Nggak kebayang, itu bikinnya gimana ya?

  • Gameplay yang sudah akrab. Saya memainkan game ini di PC dengan menggunakan controller dan sama sekali tidak kesulitan dengan kontrol dalam game karena rumus tombol yang digunakan pun serupa dengan saat bermain Harvest Moon sebelumnya.
  • Misi dan cerita yang jelas. Berbeda dari plot mewariskan sebuah ladang dan harus dievaluasi pada tahun tertentu, Doraemon: Story of Seasons memiliki tujuan utama membantu Nobita dan teman-temannya untuk kembali ke rumah dengan cara mengumpulkan kembali gadget Doraemon dan memecahkan misteri tentang pohon besar. Sejauh yang saya pahami, tidak ada evaluasi di tahun-tahun tertentu, pun tidak perlu menikahi gadis yang kita taksir.

  • Status dan peta. Seperti namanya, laman ini berfungsi menampilkan peta yang menunjukkan posisi para penduduk, sehingga kita tidak perlu susah payah mencari dan menghafalkan jadwal karakter-karakter tertentu. Amat mempermudah dalam menyelesaikan misi. Selain itu terdapat fungsi-fungsi lainnya, seperti melihat status ladang dan ternak Nobita, kedekatan dengan karakter yang ditandai dengan lambang dan warna hati yang berbeda, permintaan khusus dari NPC, dan jumlah stamp yang sudah kita kumpulkan dengan reward berupa orang-orangan sawah berbentuk karakter di dalam game.


Minus
  • Daerah yang amat luas. Meskipun terbantukan oleh peta, namun daerah yang perlu dijelajahi amat luas, sehingga bisa menghabiskan waktu berjam-jam (di dalam game) untuk menjelajah, terutama saat hendak mengumpulkan tumbuhan atau item-item musiman.
  • Waktu tidak berhenti di dalam ruangan. Jadi manfaatkan waktu sebaik mungkin, atur rute untuk memotong jalan sehingga tidak menghabiskan waktu berjam-jam seperti yang saya jabarkan di poin sebelumnya.
  • Side story yang tumpang tindih. Terkadang saya bingung, ini ada cut scene karena apa? Apakah misi mengenai koroppokur (kurcaci versi game ini)? Ataukah mengenai gadget Doraemon? Atau malah tentang misi utama, memecahkan misteri pohon besar dan cara kembali ke rumah?
  • Karakter yang kurang ekspresif. Saya tahu membuat game tentunya ribet, tapi lama-lama saya bosan juga melihat ekspresi para karakter yang diulang begitu-begitu saja. Ekspresinya pun bukan ditampilkan langsung oleh karakter di dalam game, melainkan dalam bentuk gelembung disertai dialog layaknya komik. Saya berharapnya karakter bisa ikut bergerak mengekspresikan kekesalan atau kebingungan mereka.
Dari sekilas ulasan saya di atas, apakah berhasil membuat kalian rindu bercocok tanam dan ngobrol dengan sapi? Hahaha... Saya mau lanjut main dulu dan mencoba menamatkan Doraemon: Story of Seasons ini.

You Might Also Like

0 comments

Thank you for spending your time here. Constructive criticism, question, occasional compliment, or a casual hello are highly appreciated.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan