#yoandynikahin Part 4: Gedung

April 04, 2020


Setelah kemarin membahas tanggal, sekarang kita bahas temennya tanggal, yaitu gedung atau lokasi pernikahan. Karena resepsi pernikahan kami akan dilaksanakan di gedung, jadi di sini saya pakai diksi 'gedung' ya.. Perkara gedung dan tanggal ini memang nggak bisa dipisah satu-satu, karena bisa saja gedung yang kita mau sudah penuh di tanggal yang kita inginkan. Jadinya harus bisa mengorbankan salah satu dari antara tanggal atau gedung. Umumnya sih untuk resepsi pernikahan lebih banyak yang memprioritaskan gedung, karena tanggal lebih esensial di akad atau pemberkatan. Tapi itu menurut saya dan suami, selebihnya semua kembali ke pasangan masing-masing.

Berhubung tanggal cantik untuk acara pemberkatan pernikahan dan upacara adat Batak kami sudah aman, maka yang rela saya korbankan adalah tanggal untuk resepsi pernikahan di Palembang asalkan berhasil book gedung yang sesuai keinginan hati. Karena saya termasuk golongan yang jarang menghadiri resepsi pernikahan (karena saya berdomisili di Jakarta, sedangkan teman-teman seangkatan sekolah dan kuliah dulu lebih banyak di Palembang), jadi saya kurang bisa membayangkan dalemannya gedung-gedung nikahan di Palembang. Untunglah, mom to the rescue! Mama saya sudah banyak menghadiri pesta pernikahan ataupun reuni, jadi sedikit-banyak preferensi bisa saya percayai. Preferensi kami berdua saat itu adalah sebagai berikut:

Sumber

Jumlah tamu yang akan diundang


Ruang lingkup tamu undangan kami sempit, terutama karena acaranya sekadar unduh mantu dan bersifat sangat santai. Kalau ditotal sebenarnya tidak lebih dari 500 undangan. Namun gedung-gedung di Palembang kebanyakan sudah satu paket dengan catering minimal 1000 tamu (alias 500 undangan). Jadinya kami pun harus menerima paketan tersebut. Setidaknya lebih baik sedikit berlebihan ketimbang sedikit kekurangan, apalagi perkara konsumsi yang sangat esensial di acara seperti ini.

Catering is everything


Melanjutkan dari poin sebelumnya, saya percaya betul bahwa di acara resepsi pernikahan, konsumsi menjadi satu dari sedikit hal yang akan diingat betul oleh para tamu. Konsumsinya enak ga? Cukup ga? Malah mama saya pernah menghadiri resepsi pernikahan yang sayurnya sudah basi. Sedih sekali kalau hal-hal tersebut yang diingat oleh para tamu. Jadi saran saya, kalau memang gedung yang dipilih sudah satu paket dengan catering, do pay attention to the menu and its track-record.


Lokasi


Ini menjadi salah satu pertimbangan kami karena keluarga kami banyak yang dari luar kota, jadi kami harus mencari gedung yang akses dari dan ke bandara serta hotel juga cukup dekat. Selain itu, lokasi gedung yang strategis juga tentunya mempermudah tamu undangan untuk hadir. Ga mesti terjebak macet sampai dandanan dan tatanan rambut berantakan lagi.


Freebies alias gratisan!


Hahaha... Tiap paket nikahan gedung (dan wedding organizer) punya bonus-bonus tersendiri loh. Selain bonus yang memang tertera (dan sebenarnya sudah termasuk harga yang kita bayarkan), kalau kita pintar-pintar bersilat lidah dengan marketing gedung, masih bisa dapet bonusan lagi kok. Sebagai contoh, wedding organizer saya berhasil merayu marketing untuk memfasilitasi kami dengan mobil pengantin. Walaupun jarak dari hotel kami nanti ke gedung resepsi pernikahan sangat dekat, tapi lumayan lah jadi ga harus cari kode promo ojek online.

Jenis gratisan lainnya biasanya adalah keringanan biaya tambahan konsumsi dari luar catering. Selama ini saya pikir kalau nikahan dengan sponsor itu kita terima beres saja, tapi ternyata untuk menyajikan konsumsi tambahan tersebut kena charge per satuan loh. Jadi semisal saya mau menyajikan pempek dari luar catering, saya akan dikenakan biaya tambahan kurang-lebih Rp2500,- per butirnya. Jadi untuk 100 butir pempek, saya akan dikenakan total biaya Rp250.000,- di luar biaya saya membeli pempek tersebut. Sedangkan ekspektasi saya mau menambahkan beberapa jenis kudapan selain pempek. Ternyata oh ternyata...


Budget


Yup! Semua pada dasarnya akan diawali dan diakhiri oleh dana yang canten ikhlas untuk keluarkan, karena harus diingat bahwa masih banyak printilan lainnya yang diperlukan plus jangan lupa untuk mempersiapkan dana darurat, semisal ada kendala atau insiden-insiden kecil di gedung yang memerlukan ganti-rugi dari pihak penyelenggara acara.

...and the decision goes to

Dari beberapa preferensi tersebut, saya dan mama berhasil mengerucutkan opsi gedung menjadi dua pilihan saja. Pertama adalah sebuah convention centre, dan yang kedua merupakan convention hall di sebuah hotel. Jujur saja, freebies yang ditawarkan oleh pihak hotel jauh lebih menarik ketimbang yang ditawarkan oleh convention centre (saya sangat tertarik dengan gratisan dekorasi ice carving nama pasangan pengantin... retjeh sekali kan 😜). Belum lagi wedding organizer saya juga nampaknya memang lebih cenderung 'menjerumuskan' ke arah convention hall, tambah tergoda deh saya. Namun beberapa bulan sebelum memutuskan lokasi mana yang akan dipilih, saya mendapatkan penugasan yang berlokasi di convention hall tersebut, dan ternyata... sound system dan screen yang digunakan benar-benar tidak sesuai standar hotel berbintang empat. Jadi tentu saja saya (mengikhlaskan ice carving) memilih convention centre sebagai lokasi resepsi pernikahan. Book, down payment, beres...?

Tentu saja tidak, karena pandemik Covid-19 ini, menurut kami alangkah bijaknya jika resepsi pernikahan kami yang seharusnya diselenggarakan di tanggal 28 Maret lalu ditunda terlebih dahulu hingga suasana lebih kondusif. Sedih? Nggak juga. Mama saya lebih uring-uringan ketimbang saya, karena memikirkan cara mengabarkan para undangannya πŸ˜… Kita berdoa saja semoga Covid-19 ini segera mereda, jadi kita bisa beraktivitas kembali seperti biasa... termasuk para canten bisa merayakan hari bahagianya dan para event organizer bisa kembali bernafas lega. Amin.

You Might Also Like

0 comments

Thank you for spending your time here. Constructive criticism, question, occasional compliment, or a casual hello are highly appreciated.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan