#yoandynikahin Part 5: Pilah-Pilih Vendor Undangan

April 23, 2020

Kenapa perkara undangan ribet?
Karena desainnya personal, tapi menyentuh massal, dan menghargai individual.

Bagi saya, desain undangan gampang-gampang susah. Gampang karena toh di luar sana sudah ada jutaan template desain undangan yang siap dipilih dan digunakan. Susah karena di luar sana sudah ada jutaan template desain undangan yang siap dipilih dan digunakan. Kebayang ga sih gimana memilih satu dari jutaan desain itu? Itu baru perkara desain, belum lagi budget, vendor, model undangan. Ya wajar kalau desain undangan termasuk ke list hal yang harus dilakukan di awal-awal dan jauuuh sebelum hari pernikahan. Para calon pengantin pria yang membaca tulisan saya ini, tolong maklumilah jika pasangan kalian ribet nanyain urusan undangan. Percayalah, memang seribet itu. Bedah satu-satu, yuk!

Desain Awal

Bukan suatu keharusan untuk sudah tahu atau yakin mau desain seperti apa di awal, tapi akan sangat membantu kalau canten sudah sedikit-banyak tahu keinginannya seperti apa. Saya sedari awal hanya mengurusi undangan untuk acara resepsi. Undangan untuk pemberkatan dan adat Batak semuanya suami yang urus, jadi kami pusingnya sendiri-sendiri. Karena fokus untuk undangan resepsi saja, setidaknya di awal saya sudah tahu bahwa saya mau undangan yang sederhana. Sudah itu saja. Selain tahu maunya kita, tahu apa yang kita tidak mau pun bisa membantu loh... Contoh pengalaman pribadi lagi, saya sudah tahu bahwa saya mau undangan yang simple, dan saya juga sudah tahu bahwa saya tidak mau undangan yang ada motif floral, motif yang terlalu besar, dan motif oval atau elips; serta warna yang mencolok, terutama pink dan fuchsia. Berangkat dari ketidakmauan tersebut, saya sudah bisa menemukan bahwa saya mau undangan yang sifatnya cukup minimalis, bermotif geometri, dengan warna dasar pucat. Lumayan membantu.

Selain hasil orat-oret sendiri untuk menemukan apa yang kita mau dan tidak mau dari undangan pernikahan kita, mampir ke situs yang penuh inspirasi desain undangan juga sangat membantu. Situs yang jadi acuan utama saya saat itu adalah Pinterest. Selain board, saya juga membuat section tersendiri untuk menyimpan segala sesuatu yang menginspirasi saya, termasuk section desain undangan. Ibaratnya Pinterest ini bagaikan Google untuk desain visual. Selain Pinterest, situs lainnya yang bisa dicek adalah Canva.

Kalau kita sudah punya bayangan mau desain seperti apa, komunikasi dengan vendor pun akan lebih efektif nantinya. Lumayan kan bisa memotong waktu untuk tek-tok perkara desain dengan vendor yang melayani bukan hanya satu-dua pelanggan saja.

Vendor

Ini salah satu bagian favorit saya selama saya berpetualang membuat undangan resepsi pernikahan kami. Ribet tapi seru karena dengan prinsip hemat bin pelit dan pelit pangkal hedon yang sejalan dengan prinsip ekonomi untuk mendapatkan hasil maksimal dengan modal paling minimal, maka setelah saya survei berbagai vendor undangan di Instagram, saya buat kolom perbandingan, vendor mana yang lebih menguntungkan dengan budget saya yang secukupnya saja. Hidup hemat! Hehehe...

By the way, kenapa saya memilih vendor untuk undangan via Instagram, karena saya memang sudah berniat untuk urus semua printilan pernikahan via online untuk efisiensi waktu dan biaya ketimbang harus ke toko di hari Sabtu-Minggu, toh perbedaan harganya pun ternyata
tidak signifikan, jadi biarlah semua diurus via online saja. Selain itu, saya juga sempat dua kali ke Pasar Tebet, sebuah tempat yang terkenal ebagai salah satu pusat percetakan undangan di Jakarta. Saking banyaknya contoh desain, saya sampai pusing sendiri melihatnya. Makanya saya semakin kekeuh untuk pesan undangan via online saja.

Kuantitas dan biaya berbanding terbalik!

Sudah jadi ketentuan umum bahwa semakin banyak mencetak undangan per desain, maka harga per piece undangan akan semakin murah. Perlu diingat juga, untuk canten yang memang berniat tidak mengundang terlalu banyak tamu, maka perlu lebih pilah-pilih vendor, karena tidak semua vendor melayani pemesanan kurang dari 200 undangan. Vendor yang saya pilih sendiri hanya menerima di atas 300 undangan. Mengingat paketan resepsi pernikahan saya adalah untuk 1000 orang, maka saya pun memesan 515 undangan. Karena saya memesan di atas 500 piece, maka saya diberikan freebies berupa dua buah buku undangan, dan tag untuk souvenir (opsi pilihan yang ditawarkan ke saya adalah tag souvenir atau tag untuk photobooth). Untuk stiker label dan plastik undangan semuanya memang sudah satu paket dan diberikan sesuai jumlah undangan yang dipesan ya...

Lantas memesannya kapan ya?

Secepatnya! Saya memesan undangan resepsi pernikahan kami itu tergolong terlambat, H-3 bulan. Padahal ketika saya menghubungi vendor, saya sudah memiliki contoh desain, bahkan saya mengirimkan draf kasar dalam bentuk Powerpoint. Tapi ternyata tek-tokan masih cukup lama (bahkan ada kesalahan-kesalahan kecil yang menurut saya seharusnya tidak mungkin salah, tapi ya sudahlah ya...), revisi juga cukup lama, sampai saya harus chat ulang customer service-nya untuk menanyakan revisi saya (dan ternyata mereka kelupaan ngerjain revisiannya. w o w), hingga akhirnya undangan saya selesai dan sampai tepat H-1 bulan sebelum acara resepsi pernikahan. Jadinya orang tua saya agak kejar-kejaran untuk mengirimkan undangan ke para tamu.

Jadi saran saya, kalau memang kalian masih banyak yang ragu, masih perlu diskusi dengan vendor, silakan mulai memesan 4-6 bulan sebelum acara ya.. Lebih cepat beneran lebih baik kok. Jangan lupa juga untuk membaca dengan seksama syarat dan ketentuan dari vendor yang kalian pilih, karena mengingat hectic-nya urusan nikahan, bisa saja kalian lupa akan berbagai freebies yang ditawarkan oleh vendor. Ingat, hidup gratisan! Hidup!




You Might Also Like

0 comments

Thank you for spending your time here. Constructive criticism, question, occasional compliment, or a casual hello are highly appreciated.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan