#yoandynikahin Part 2: Nikah Juga Perlu Dicatat

January 24, 2020

Sedari kecil, saya sangat suka menulis, bahkan sekadar bikin oret-oretan udah suka. Kalau mata pelajaran Bahasa Indonesia, tugas bikin puisi cheesy, contoh kalimat, dan mengarang, saya jago deh. Bahkan nulis ulang lirik lagu (atau list lagu dari sebuah kaset atau CD!!) aja saya suka. Pokoknya nulis. Kebiasaan ini terbawa sampai sekarang. Mau memulai apa-apa, saya pasti oret-oret dulu garis besarnya, entah di kertas, aplikasi di smartphone, atau pun membayangkannya di otak. Intinya, harus ada list dulu.

Kalau belanjaan dan skincare saja saya buat list-nya, masa pernikahan saya nggak? Jadilah poin pertama di to-do list saya adalah mencari list things to-do pernikahan di Pinterest. List dalam list. Listception.


Di tautan gambar kedua, ada timeline yang menurut saya sudah rinci dan bisa dijadikan acuan. Tapi setelah dibaca, saya malah makin pusing karena tersadar bahwa banyak sekali yang harus diurusin yaaa... and if you know me, 'diurusin' means dicek dulu portofolio, review, harga, dan gimana personality vendornya. Sentimental banget.

Benang merah dari seluruh list yang saya temukan di Pinterest adalah tiga hal paling krusial dari sebuah perencanaan pernikahan: tanggal, venue, dan budget.

Lini Masa


Kalau dihitung bersihnya, durasi persiapan pernikahan kami hanya dalam waktu empat bulan. Lima bulan, kalau sampai ke resepsinya. Sangat sedikit. Sampai beberapa kali saya mengeluh, "Kenapa pernikahan agama Kristen tidak bisa se-simple agama Islam? Kenapa tidak bisa menikah di KUA saja?" Karena ketika urusan tanggal, venue, dan budget sudah beres, masih ada urusan administrasi, baik secara agama ataupun negara, yang menanti. Di tengah proses administrasi, masih ada "hiburan" berupa perdebatan tentang printilan lainnya. Seru sekali.


Lini masa ini saya buat di Google Slides yang isinya berbagai printilan pernikahan yang harus diselesaikan oleh saya dan calon suami.

Terus apakah lini masa sesuai dengan realisasi di lapangan?
Tentu saja tidak πŸ˜…

Tapi dengan adanya lini masa, saya jadi tidak sehilang arah sebelumnya. Hal-hal yang tadinya nampak besar, di-breakdown, sehingga saya sendiri tidak kewalahan melihatnya. Ada panduan untuk kami bergerak. Ada skala prioritas yang sudah didapatkan gambarannya, sehingga hal-hal penting bisa diselesaikan sejak jauh hari. Plus, bisa jadi alasan buat ngedumel ke calon suami biar nggak kelewat santai 😏

Di dokumen Slides tersebut juga saya masukkan berbagai vendor yang layak dipertimbangkan, mulai dari vendor undangan, souvenir, MUA, fotografer, sampai ke pakaian pernikahan. Masukin aja semuanya dan tidak harus diselesaikan berurutan. Semisal lagi survei souvenir dan tiba-tiba jenuh, ya udah, lompat ke survei MUA aja. Yang penting, kalau tiba-tiba ketemu yang menarik hati, langsung disimpan, karena ketika nanti-nanti-nanti-nanti bisa berujung kelupaan dan mewek karena pernah lihat vendor bagus tapi lupa namanya dan lupa lihatnya di mana. Nggak, nggak kejadian di saya kok untungnya 😌

Saya sendiri tiap kali ketemu sesuatu yang menarik dan layak dijadikan referensi, langsung saya screenshoot dan tambahkan di Slides. Termasuk ketika mendapat ide atau keinginan tertentu, saya cantumkan juga di Slides, jadi saat nanti akan dieksekusi, sudah tidak kewalahan saat menjawab pertanyaan vendor, "Mau model yang gimana, kak?"


Dua gambar terakhir merupakan screenshoot dari Slides saya dan calon suami (walaupun saya ragu dia pernah berkontribusi di dalam Slides πŸ˜’). Selain Slides, saya juga menggunakan aplikasi Google Keep. Banyak aplikasi untuk nyatet, tapi saya sudah sangat terbiasa dengan tampilan sederhana dan tidak "berisik" dari Keep. Selain bisa untuk menulis, di Keep juga bisa membuat list, menambahkan gambar dan audio. Tiap memo juga bisa diberi label kategori dan diubah warna kertasnya. Jadi meskipun saya menggunakan Keep untuk urusan kantor dan pribadi, tidak akan sulit mencari memo, karena warnanya bisa dibeda-bedakan. Oh, satu lagi, bisa di-backup dan sinkronisasi. Jadi saya juga bisa akses Keep di gawai manapun. Budak Google sekali Anda, An! πŸ˜…

Itu beberapa rekomendasi saya, semuanya disesuaikan dengan preferensi masing-masing ya... Memang untuk perencanaan pernikahan kami ini saya berusaha meminimalisir penggunaan kertas. Go green. Sekaligus karena brainstorm ide dengan berbagai pihak secara jarak jauh kan sulit ya kalau masih pakai kertas. Mengutip kata teman sekelas saya dulu, "There's always an app for that."

Sampai ketemu di post mengenai venue!

You Might Also Like

0 comments

Thank you for spending your time here. Constructive criticism, question, occasional compliment, or a casual hello are highly appreciated.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan