#yoandynikahin Part 7: Nikah, Yuk!

November 20, 2020


Hari ini tepat sembilan bulan usia pernikahan kami. Masih kecil ya... Masih perlu banyak pelajaran-pelajaran yang bisa jadi amunisi dalam perjalanan menua bersama ini. Di mensiversary ini, saya teringat bahwa rincian hari H pernikahan kemarin masih mengendap di draf blog. Jadi mari bercerita tentang hari H!

Nggak bisa tidur? Jelas! Bukan karena gugup, melainkan karena takut bablas ketiduran dan terlambat persiapan makeup. Belum lagi di jam 12 malam saya malah baru mulai mengecat kuku-kuku saya. Soalnya salon yang bisa melayani nail art di Balige itu sangat sedikit, dan itu pun tidak ada yang merespon pertanyaan saya di akun Instagram mereka. Akhirnya saya cat sendiri deh sambil meladeni calon suami yang nggak bisa tidur karena gugup. Kami Whatsapp-an sampai kurang lebih jam setengah dua pagi.

Yang dirasain sepanjang hari H? Tentunya senang dan bersyukur karena memulai petualangan baru dengan orang yang saya percaya dan kasihi. Tapi ada kesal dan betenya juga karena biasa yaaa jam karet orang Indonesia pada umumnya. Sampai-sampai Pendeta saat bimbingan pranikah di hari sebelumnya bercandain bahwa WIB itu bukan Waktu Indonesia Bagian Barat, melainkan Waktu Indonesia Bagian Batak. Hmm... Sebagai mbak-mbak yang cukup sering menyelenggarakan acara kedinasan, ketepatan waktu itu sangat krusial. Makanya saya hanya bisa menahan kesal dan rasa ingin turun tangan langsung mengatur acara (dan menegur yang tidak bisa tepat waktu). Tapi apa daya, ratu sehari sudah disuruh senyum terus dan pasang muka bahagia seharian. Baiklah, toh hari ini hanya sekali seumur hidup, ya sudahlah. 

Sekarang mari bicara tentang printilan menyenangkan sepanjang hari H ini. 

1. Makeup dan hairdo

Kudos untuk MUA saya, Haulianta. Saya lebih memilih MUA karena bisa lebih fokus saat saya hubungi untuk request ini-itu, contohnya saat saya request model tata rias dan buket bunga. Yes, sekalian dengan buket bunganya juga kok... Jadi dengan biaya yang saya keluarkan untuk seorang MUA, saya tinggal duduk manis saja.

Kelebihan: Tarif sangat sesuai dengan servis yang diberikan! Tata rias benar-benar awet dari subuh sampai malam di kulit wajah saya yang berminyak ini. Higienitas peralatan yang dipakai semuanya terjaga. Brand yang digunakan pun nggak sembarangan, perpaduan high end dan drugstore yang nggak bikin kulit muka saya kaget keesokan harinya. Untuk tata rambut juga benar-benar kuat tapi nggak bikin sakit kepala. Buket bunga pun sesuai dengan permintaan saya dan masih segar sampai beberapa hari kemudian. Dan karena ini sekalian dengan acara adat, jadi harganya sudah dengan touch up ya... Setelah pemberkatan selesai, MUA dengan cekatan langsung bongkar tata rambut saya dan ganti dengan sasakan untuk dipakaikan sortali. Rambut selesai, langsung oper ke wajah. Touch up make up, ganti sedikit warna lipstick, tepuk-tepuk bedak padat, semprot face mist, selesai! Beneran jatuh cinta dengan hasil tangan sang MUA.

Kekurangan: Karena saya hanya ambil sesuai paket, yaitu pengantin dan salah satu orang tua pengantin, jadi MUA saya tidak bawa asisten. Agak deg-degan apa bisa selesai tepat waktu, karena untuk mengukir alis saya saja hampir satu jam loh!

2. Kebaya

Agak sulit bagi kamera untuk menangkap cantiknya kebaya saya yang dipenuhi payet ini. Tapi ketika dilihat langsung, kebaya ini banyak menuai pujian di hari H. Bahkan MUA keluarga saya sampai beberapa kali memotret kebaya ini. Kebaya dengan bahan dasar brokat bermotif daun ini saya sewa dari Melati Griya Pengantin. Sedari ingin menikah, saya memang tidak mau menjahit kebaya pengantin dengan alasan penghematan dan lebih ramah lingkungan. Biaya sewa kebaya yang saya kenakan kira-kira seharga satu-dua meter bahan kebaya pengantin. Belum upah jahit dan biaya pemasangan payet. Boros, beb. Dan itu pun hanya dipake sekali seumur hidup. Because let's be honest, dear, how many circumstances that force you to rewear your wedding dress? Ya kalopun dipake lagi mungkin hanya setahun sekali untuk sesi foto ulang tahun pernikahan. Karena hemat dan cuan adalah jalan ninja saya, maka menyewa adalah jurus rahasianya.

   

Kelebihan: Pilihannya sangat banyak! Saran saya sediakan waktu untuk browsing berbagai model kebaya mereka di situsnya. Catat nama-nama dari kebaya yang ditaksir, bila perlu di-screenshot. Setelah itu datang langsung ke griyanya dan ngobrol deh dengan para mbak-mbak asisten yang ramah dan dengan senang hati memberi masukan. Kalau sudah sesuai dengan kebaya yang ditaksir, badan kita akan diukur lagi untuk menentukan apakah kebayanya perlu dimodifikasi atau tidak. Contohnya kebaya saya yang tangannya kepanjangan dan potongan kerahnya agak terlalu lebar. Lokasi Melati Griya Pengantin memang agak jauh (bagi saya), tapi tempatnya nyaman. Ruang ganti sekaligus ruang konsultasinya luas dilengkapi dengan AC dan kaca selebar satu sisi ruangan, jadi kita bisa leluasa mematut-matut dan mengambil foto dari berbagai sudut. Setiap menyewa kebaya pengantin, sudah satu set dengan giwang atau bros, bustier, dan sandalnya ya.. Kalau saya kemarin nggak ambil sandalnya karena sudah pakai sepatu andalan sendiri. Satu lagi, jangan takut dengan kata "sewa", karena semua kebaya di sini bersih. Saat sudah selesai acara pun kita tidak perlu dry clean kebayanya, tinggal kembalikan saja, karena dari pihak Melati Griya Pengantin sendiri yang akan mencucinya.

Kekurangan: Per kunjungan, kita hanya diperbolehkan mencoba tiga jenis kebaya, jadi pastikan dilihat-lihat dulu mana yang ditaksir sebelum memutuskan untuk mencoba ya! Silakan dengarkan saran dari mbak asisten, tapi tetap harus utamakan kata hati kita. Soalnya saya kemarin sempat kecele nih... Mbak asisten sudah bawa tiga kebaya dengan model sesuai yang saya taksir. Waktu saya pegang kebaya A, mbak asisten bilang itu motifnya agak besar dan takutnya kurang cocok dengan badan saya yang juga besar, jadinya saya skip. Kebaya B dan kebaya C sudah saya coba tapi belum merasa sreg. Waktu mbak asisten lagi mencari kebaya lainnya untuk ditunjukkan ke saya, saya sibuk pegang-pegang dan bentangkan si kebaya A. Akhirnya saya kekeuh bilang ke mbak asisten kalau saya mau coba si kebaya A. Ending-nya? Kebaya A-lah yang saya sewa, karena modelnya sederhana dan cutting-nya sesuai dengan yang saya inginkan. Lesson learnt.

3. Songket 

Psst... songket saya ini sudah dibelikan oleh mama sejak saya dilamar secara tidak langsung oleh calon suami. Menurut mama, kalau sudah jalan Tuhan, pasti terjadi.

Songket ini dibeli di Palembang, saya lupa nama tokonya, tapi area penjualan songket Palembang yang terpercaya hanya sedikit kok di Palembang, salah satunya di komplek Ramayana ini. Waktu membeli songket pun tidak sengaja dan tidak direncanakan. Karena saat itu posisinya saya baru keluar dari rumah sakit karena tipes, tiba-tiba saja kami tercetus niat untuk *melihat-lihat* songket. Eh, malah beli. Lucunya, saat songket sudah dikemas dalam wadahnya dan saya sedang melamun sambil bersandar di wadah songket, barulah saya tersentak, "Saya mau menikah?!" Terus saya mewek deh... Sentimental dan rada lemot.

Untuk harga songketnya, jujur saya lupa, yang pasti bikin saya rada shock sih hahaha... Tapi untuk harga Songket Palembang asli paling murah itu di 1,5 juta yaa.. Jadi kalau ada yang menawarkan Songket Palembang di bawah harga itu, harus waspada. Bahkan yang rada mahalan aja sekarang sudah ada tiruannya. Sebaiknya memang membeli langsung supaya bisa lihat dan pegang langsung bahannya. Songket ini saya jahit di Jakarta, tepatnya di Agressia Busana di Pasar Benhil. Saya sudah beberapa kali menjahit di sini, upah jahitnya masih masuk akal dengan hasil yang rapi dan cukup tepat waktu. Untungnya pak penjahit bisa jahit songket tanpa potong bahannya.

4. Sepatu

Memang hal-hal yang tidak direncanakan itu malah bisa kejadian ya... Kalau tidak salah ingat, sampai H-7 dari keberangkatan ke Balige, saya dan calon suami belum punya sepatu nikahan. Ini karena kami baru bisa keliling mal di saat akhir pekan, itu pun lebih banyak terfokus untuk mencari jas. Kami sudah pernah ikut midnight sale di salah satu mal, menahan kantuk mencari sepatu, eh malah beli smart TV. Kelewat random.

Sampai akhirnya saat selesai makan malam di Gandaria City, saya tiba-tiba ditarik ke store Geox oleh calon suami. Tidak perlu lama bagi saya untuk melayangkan pandang sampai akhirnya jatuh cinta dengan heels yang saya gunakan di hari H. Tingginya hampir 10 cm, tapi benar-benar nyaman dan tidak ringkih. Saking nyamannya, saat acara adat akan dimulai, saya menukar heels ini dengan sandal Aldo dengan hak kurang-lebih tiga cm. Ternyata malah saya lebih pegal memakai si sandal ini ketimbang heels.

Kelebihan: Geox memang benar-benar sangat nyaman. Modelnya pun classy dan timeless jadi bisa saya gunakan di acara-acara lain. Memang tidak semua produk mahal sudah pasti nyaman, tapi untuk kesan pertama saya dengan Geox ini cukup membuat saya akan melirik ke store Geox jika nanti perlu sepatu lain.

Kekurangan: Bahannya kulit sintetis, perlu perawatan ekstra untuk menghindari pengelupasan.

*

Sebelum post ini menjadi semakin panjang dengan berbagai rekomendasi dari saya, mari disudahi dulu. Kalau nanti ada rekomendasi lain yang saya terlupa akan saya buat di post lain ya...

P.s.: "Nikah, yuk!," adalah kalimat yang dilontarkan oleh suami saat kami berada di ruang tunggu apotek Puskesmas Kecamatan Setiabudi sekitar pukul 10 malam. Hehe...

You Might Also Like

0 comments

Thank you for spending your time here. Constructive criticism, question, occasional compliment, or a casual hello are highly appreciated.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan