Sansevieria: Panggil Aku Dracaena!

November 17, 2020

Kalau kalian merasa seperti sudah pernah membaca post ini. Yak, betul sekali... Post yang lama terhapus dan tidak bisa diselamatkan jadi saya harus mengetik ulang post ini. Mari menertawakan keteledoran diri sendiri.

Masih menjadi suatu pertanyaan bagi saya, kenapa tanaman ini dinamakan Lidah Mertua? Bahkan di dalam Bahasa Inggris pun tetap dikenal sebagai Mother-in-Law's Tongue. Kalau kata orang-orang sih karena setajam lidah mertua. Padahal kalau mau tanding tajam-tajaman mah durinya si kaktus koboi lebih tajam lagi. Jari tengah saya sempat bengkak beberapa hari karena tertusuk durinya.

Anyway, sejak tahun 2018 Lidah Mertua ternyata tidak lagi masuk dalam genus Sansevieria, melainkan digolongkan ke genus Dracaena. Hal ini dikarenakan adanya perubahan molekular yang baru saja ditemukan (!!!). Kebayang nggak sih, betapa kesalnya si Lidah Mertua karena sudah hidup sekian lama dengan nama Sansevieria, tiba-tiba ada penelitian dan temuan baru sehingga ia berganti nama menjadi Dracaena trifasciata.

Walaupun saya baru mengadopsi Sansevieria Dracaena ini di bulan September 2020, tapi saya baru tahu akan berita ini karena penasaran dengan cara merawatnya. Saya tadinya tidak tertarik dengan tanaman, tiba-tiba nekat ingin mencoba mempercantik teras rumah yang nampak gersang. Setelah cukup lama googling dengan keyword 'tanaman hias untuk pemula', Lidah Mertua ini selalu masuk ke dalam berbagai list. Ditambah lagi NASA menyatakan bahwa ia termasuk dalam tanaman yang memiliki fungsi purifikasi udara. Jadilah saya meminta suami untuk mengantar saya pergi mengadopsi dua bibit Lidah Mertua. Sepanjang perjalanan pulang, saya senyum-senyum bangga akhirnya akan bertanggungjawab atas anak-anak hijau. Walaupun saat itu saya belum punya pot dan tanah.

Fast forward ke bulan November. Lidah Mertua, yang saya berikan nama panggilan Sansi (iya, saya tetap panggil Sansi, bukan Draci) sudah dua kali pindah pot. Akibat keterbatasan informasi bahwa Lidah Mertua ini ternyata tumbuh tingginya cepat sekali yaaa, saya hanya membeli pot panjang dengan tinggi 15 cm saja. Alhasil beberapa minggu kemudian, tingginya Sansi sudah terlihat tidak imbang dengan potnya. Saatnya repotting. Sekarang Sansi sudah anteng di pot tingginya, bahkan sudah melahirkan beberapa anak baru. Memang benar penjabaran seluruh artikel yang saya baca. Lidah Mertua atau Snake's Plant ini benar-benar tanaman yang tidak rewel. Lidah Mertua bisa menoleransi ragam tingkatan cahaya, mulai dari artificial light, sampai ke sinar matahari langsung. Meskipun terlalu banyak paparan sinar matahari langsung tidak begitu baik bagi tanaman ya, karena bisa mengakibatkan perubahan warna daun.

Begitu pula dengan penyiraman. Lidah Mertua menyimpan cadangan air di daunnya yang tebal sehingga bisa bertahan dengan intensitas penyiraman yang sedikit. Cukup disiram ketika media tanamnya sudah terasa kering. Efek buruk dari tidak perlunya penyiraman rutin, saya seringkali lupa untuk menyiram si Sansi. Jadi selama ini Sansi hanya bertahan hidup dari belas kasihan alam alias disiram air hujan. Maaf ya, Sansi...

Kalau teman-teman masih ragu untuk memulai berkebun karena takut bertangan dingin dan malah membunuh tanaman, silakan mulai belajar dengan mengadopsi Lidah Mertua. Jenisnya ada banyak kok, mulai dari yang ukurannya mini, sangat tinggi, atau berbentuk seperti centong, bisa dipilih sesuai preferensi kalian. Pertanyaan saya cuma satu: kalian akan panggil mereka Sansevieria atau Dracaena?

You Might Also Like

0 comments

Thank you for spending your time here. Constructive criticism, question, occasional compliment, or a casual hello are highly appreciated.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan